Blog ini lahir ketika saya kelas 2 SMA, dan sekarang saya sudah masuk tingkat 4 di perguruan tinggi swasta, berusaha mencapai cita2 sebagai dokter daiyah! mohon doanya ^_^
Ketika engkau akan merangkai semua dalam pita keindahan.. ingin engkau bentuk seperti apa, engkau pilih warna apa..hingga ia akan menarik perhatianmu. Sutu pencapaian maksimal yang ingin kau dapati. Indah bukan?
Sebagaimana engkau juga ingin merangkai hatimu seindah yang engkau inginkan, sahabat. Inikah atau yang itukah hasilnya? Ah.. semakin tak menentu jika hasilnya tidak sesuai dengan inginmu. Tapi sabarlah wahai sahabat... Ada kalanya ia akan menjadi indah Itu hanya permasalahan hati yang akan engkau temui Tapi jangan engkau buat kalut hatimu itu
Hai hati, saat ini aku ingin mengetuk hatimu Apa kabar? SSstt... senang, sedih, gembira, kalut, cemas itu semua adalah pilihanmu Coba saat ini engkau putuskan untuk memilih SENANG!! Aku tidak ingin memaksamu, hanya saja memandumu untuk memilih yang indah
Eh, tahu ga? Cobalah hati ini kita kembalikan lagi pada pemiliknya. Ya, aku tahu pemiliknya adalah engkau, tapi lebih daripada itu yang memiliki adalah ALLAH Aku tahu, hati itu mudah terbolak-balik kan.. memohonlah engkau agar ia selalu tetapkan hati ku dan hatimu hanya pada ALLAH.. karena DIA yang paling tahu yang terbaik buat kita.
Semoga ALLAH memberkahi setiap keputusan demi keputusan yg kita ambil dalam episode kehidupan ini. Postingan ini saya ambil dari blog salah seorang teman saya, akh syabli
Wallohu'alam bishowab.
* * * * * * * * * * * * * * * * *
Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya 'seseorang melamar saya'. Ternyata masalah itu tidak sesimpel ketika saya menuliskannya waktu itu. Banyak perkembangan dalam realita di lapangan yang membuatku harus bertanya, membaca dan merekonstuksi ulang pemahaman yang terdahulu. jadi ingat tulisannya Anis Matta dalam serial pembelajaran Tarbawi, lukisan yang tak sempurna. ya, pengetahuan kita tidak akan pernah sempurna.
Sebenarnya ini bukan kafaah saya, tapi Allah mengirimkan masalah ini kepada saya untuk belajar lebih cepat tentangnya. sebetulnya sih, gak terlalu suka posting-postingan tentang prosesi menggenapkan agama yang satu ini, bukan karena tidak ingin, lebih karena belum berpengalaman. Yah, kebanyakan prolog. kita langsung saja ke Tee Kaa Pee.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridha akan agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di permukaan bumi" (HR. Tirmidzi)
Kalau pada tulisan sebelumnya saya berbicara dari perspektif sang ikhwan, kali ini saya ingin berbicara dari perspektif sang akhwat dan keluarganya. coba baca kembali hadist di atas! serem kan? sangat serem bagi seorang akhwat. apalagi akhwat yang sedang mendapat lamaran dari seorang ikhwan. ditambah lagi ikhwannya sudah dikenal baik akhlak dan juga agamanya. kalau saya seorang akhwat, saya juga akan merasakan hal yang sama. gamang apakah akan menolak atau tidak, menolak takut karena Rasul yang suci sudah mengatakan demikian, mengatakan iya juga belum bisa. ah, jadi serba salah, serba bingung.
Kita lanjut ke cerita sebelumnya. saya memberikan dua jawaban ketika sang ikhwan meminta saya untuk menemani dia melamar sang akhwat. jawaban pertama adalah jangan pernah mendahului takdir (sudah panjang lebar di tulisan sebelumnya) dan jawaban kedua adalah; masalah pernikahan bukan masalah sembarangan, ia adalah masalah seumur hidup. bukan main-main. jadi, sebuah pernikahan haruslah dibicarakan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan. dalam hal ini, sang akhwat dan juga keluargannya.
saya pun berbicara dengan akhwat dan keluarganya. singkat cerita, saya tidak mau mengatakan apakah ditolak atau diterima. tapi yang ingin saya tuliskan di sini adalah apa sikap terbaik yang harus diambil oleh akhwat itu dan keluarganya dalam memutuskan.
maaf, bicaranya agak belepotan gara-gara belum berpengalaman. memutuskan menerima atau menolak itulah yang perlu kita pelajari bersama kali ini. dan inilah pemahaman saya tentang hal itu.
Hadist tersebut di atas adalah benar adanya. namun jangan ditafsirkan secara sembrono. harus mempertimbangkan berbagai macam aspek. terutama sang akhwat, sebagai aktor utama. jangan mentang-mentang hadisnya berbunyi begitu, seenaknya saja kau tembak akhwat dengan lamaran dan menjadikan ucapan rasul itu sebagai senjata pamungkas agar tidak ditolak. itu salah kawan!
Untuk akhwatku yang dimuliakan Allah, engkaulah yang berhak menentukan apakah engkau akan menerima atau tidak. tentu saja dengan mempertimbangkan segala sesuatunya, keluarga, kesiapan mental, fisik dan segala tetek bengek terkait dengan sebuah pernikahan. keputusan final ada pada dirimu seutuhnya, bukan pada hadist itu. alasan paling jitu tentang apa yang aku katakan ini sebaiknya di akhir tulisan. supaya lebih greget dan para pembaca tetap melanjutkan bacaannya.
Coba kutuliskan di sini beberapa kalimat kegundahan dari sang akhwat; "wah, kepikiran terus, antara keinginan untuk lulus dulu (belum mau nikah) dengan menolak lamaran (mau menikah)" di lain kalimat ia bertanya "Nikah itu apa perlu ikhtiar? kalau ada yang melamar tapi kita menolak apa itu ketentuan Allah?" dan juga "Apa lamaran itu adalah rizki?"
Kumelihat betapa kegundahan telah menjadi badai di hatimu. belum lagi kalimatmu yang terakhir "Nikah itu butuh persiapan banyak kan? sebenarnya belum mau tapi takut salah mengambil keputusan. presentase belum mau lebih besar. pemikiran saya; menikah sekarang akan menambah beban, palagi masih kuliah. tapi apa ada yang mau melamar nanti setelah lulus. sedangkan kalo akhwat kalo masalah nikah hanya menunggu."
Wah, sepertinya harus mengulang materi kemarin lagi nih. jangan mendahului takdir saudariku! tentukan sekarang apakah kau mau dan siap untuk menikah. jika jawabannya adalah iya, maka dengan sepenuh hati Saya akan bantu. tapi kalau jawabannya adalah tidak, maka jangan kau bicarakan lagi dari detik ini. sekali lagi keputusan ada di tanganmu!. jangan pernah mendahului takdir dengan mengatakan bagaimana kalau setelah lulus tidak ada yang akan melamar?. siapa yang bisa menjamin kau bisa lulus. siapa yang akan menggaransi kau masih hidup satu bulan lagi? apalagi lulusmu masih bertahun-tahun.
kau bertanya kembali dengan opsi bahwa biarkan sang ikhwan melamar tapi nanti jawabannya adalah menunggu lulus. ukhti, sekali lagi jangan mendahului takdir dan mengotori proses. siapa yang menjamin kalian berdua masih hidup saat pergantian tahun, siapa yang akan menjamin tidak ada sms mesra, telepon rindu selama menunggu tahun kelulusan itu. siapa yang jamin, hah! nabi yusuf saja tidak kuat kalau tidak dengan pertolongan Allah, apalagi engkau saudara dan saudariku yang jauh dari sempurna.
Sebuah lamaran membutuhkan jawaban ketegasan. tidak atau iya. tidak boleh ada tidak jika, atau iya kalau apalagi iya tapi... seperti iya tapi setahun lagi, iya tapi setelah lulus. dengan jawaban memble seperti itu kau telah membuat lobang buaya, membuat kesempatan untuk syaitan masuk ke dalam kesucian proses. jangan lakukan itu, itu lebih parah dengan prasangka dirimu menyalahi hadist rasul di atas.
pilihannya adalah iya atau tidak dengan intonasi ketegasan. iya maka segerakan, tidak maka jangan ada harapan, biarkan takdir Allah yang berbicara nanti, entah kapan, terserah Allah. kalau memang jodoh, Ia akan mempertemukan kalian. pasti. maka saran terbaikku untukmu ukhti, tentukan pilihan sekarang; iya atau tidak. dan lanjutkan hidupmu sesuai dengan keputusanmu itu, kalau iya berarti hadapilah setiap konsekuensi menjadi seorang istri, kalau tidak berarti lanjutkan hidupmu seperti semula. jangan ada sesuatu yang mengganjal.
untuk sang ikhwan, saran terbaik yang bisa kuberikan hanya dua pilihan; satu, kalau kalau mendapat penolakan maka lamarlah wanita yang lainnya. jangan kekeuh pada satu wanita dengan bersedia menunggunya selama bertahun-tahun. hal itu menunjukkan ketidak tulusan niatmu untuk menyempurnakan agamamu. tidak hanya itu, kalau kau melakukan itu kau berarti sedang menantang Allah dengan cara mendahului takdir. ingat jodoh itu adalah takdir yang tidak bisa dirubah dan engkau tidak tahu sedikitpun tentangnya sampai kau mengalaminya.
atau yang kedua adalah, kalau kau mendapat penolakan dan sementara tidak akan melamar wanita lain. jangan coba-cona untuk membuat Allah murka dengan aktivitas di luar syariat. tetaplah istiqomah di jalan dan cara yang sudah Allah tentukan. niscaya Allah akan mempersiapkan bidadari bumi untukmu. percaya itu.
Saya rasa saya sudah menulis terlalu panjang, akan ku akhiri tulisan ini dengan alasan mengapa seorang ukhti tidak boleh takut dengan hadist di atas. Ukhti, hadist itu ditujukan untuk para wali nikah bukan pada perempuan yang dilamar. sekali lagi, hadist itu untuk para bapak, bukan untuk para wanita yang dilamar. karena ada hadist nabi yang lain mengatakan; Seorang janda tidaklah dinikahkan sehingga dimintai pendapatnya. Tidak pula seorang gadis dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya..." (HR. Bukhari, Muslim dan tirmidzi, hasanshahih, Al-jami’ fi fiqhi an-Nisaa hal:400).
Dalam hadits lain juga dikatakan, ada seorang gadis menemui Rasulullah lalu bercerita tentang ayahnya yang menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai, maka Rasulullah memberi hak kepadanya untuk memilih.... [HR Ahmad, Abu Dawud, & Ibnu Majah, lihat Kitab Bulughul Maram hadits no 1016]
Saudariku, bila memang hatimu tidak suka maka janganlah engkau merasa ragu dan bimbang. Apalagi segan atau takut untuk membatalkan lamaran itu. Jangan merasa tidak enak, nanti akan mengecewakan keluarga laki-laki dan mungkin fitnah yang timbul akibat pembatalan itu. Engkau yang akan menikah, engkau yang akan menjalani hidup bersamanya,bukan orangtuamu, bukan tetanggamu, atau masyarakat di sekitarmu. Hilangkan semua perasaan-perasaan tidak enak yang berkecamuk dalam dadamu. Yakinlah terhadap pilihanmu bila memang engkau tidak suka maka jangan ragu-ragu untuk menolaknya. Itu semua untuk kebaikan agamamu, kebahagiaan dunia dan akhiratmu.
Semoga Allah segera menghadirkan calon yang sesuai dengan idaman hati kita sebagaimana doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Amin ya,..Mujibas Sailin.
Selang-selang itu terus mengalirkan darah dari tangan
seorang qowam dalam rumah tangga,
menuju sebuah alat untuk menguraikan zat-zat sisa metabolisme yang sudah tidak
terpakai lagi dengan zat-zat yang masih digunakan oleh tubuh. Beliau harus rela
untuk setiap minggunya 2 kalimelakukan
hal seperti itu, karena fungsi dari ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi
semenjak 6 tahun yang lalu. Semua kerja dari salah satu sistem organnya,
ginjal, harus dialih fungsikan oleh sebuah alat yang bernama hemodialisis.
Tubuhnya kurus, dan perutnya terlihat membesar.
Beliau sangat ramah menyapa kedatangan kami, yang saat
itu kami harus mengambil data penelitian epidemiologi klinik pada blok elektif
–riset- ini, di salah satu ruang hemodialisis di sebuah rumah sakit swasta di
jogja. Sambil ditemani istrinya, beliau terlihatsangat menerima apa yang ALLAH berikan
kepadanya.
Umur yang masih terbilang produktif, 42 tahun, namun
ALLAH sudah memberi beliau ujian yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Benarlah, bahwasanya ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai
kesanggupannya.
Ketika kami bertanya dari sisi ibadahnya setelah ALLAH
meberi ujian ini, alhamdulillah beliau semakin mendekat kepada ALLAH, tidak
lagi menunda-nunda untuk menunaikan sholat wajibnya, dan bahkan beliau sering
terbangun sendiri untuk melakukan sholat tahajud.
Saudaraku... kisah di atas adalah sedikit crita yang
ingin saya uraikan hikmahnya dari pengalaman saya bersama pasien-pasien gagal
ginjal.
Mudah bagi ALLAH untuk memberi penyakit kepada kita...
cobalah kita sesekali bertafakur terhadap ujian yang ALLAH berikan kepada
saudara-saudara kita..
Mereka sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi..
coba bayangkan betapa nikmatnya, kita yang sehat... ginjal kita masih berfungsi
normal hingga saat ini. Setiap harinya ginjal kita dilalui sekitar 170 L darah
untuk difiltrasi, gratis!!! Kita bisa melakukan tugas2 sehari2 kita lebih
menyenangkan, ibadah pun tidak terganggu.
Mereka –pasien2 gagal ginjal- harus rela mengeluarkan
uang sekitar 600-700 Rb setiap kali cuci darahnya, oh.. betapa murahnya ALLAH
menganugerahkan nikmat sehat ini.
Belum lagi mereka masih merasakan rasa pusing, mual, kram
otot, dll setelah menjalani cuci darah.
MasyaALLAH...
Bapak itu.. beliau harus mengatur pola diet makan dan
minumnya. Bayangkan.. beliau setiap harinya dijatah maksimal sehari minum hanya
2 gelas air saja, karena sistem ginjal sudah benar2 tidak berfungsi lagi,
bahkan beliau sudah tidak bisa mengeluarkan urinenya lagi. Pantas saja, perutnya
membesar.
Bagaimana saudaraku? Masihkah terus mengucapkan tahmid
membaca ceritaku?
Ya ALLAH... tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi
ENGKAU ketika itu semua adalah kehendakMU.
Aku begitu malu... ketika aku menemui pasien-pasien gagal
ginjal.. aku malu... karena aku sering mengeluh yang tidak jelas, padahal
nikmat-nikmat ALLAH sangat besar dan begitu banyak yang telah ALLAH berikan
kepadaku..
Ya ALLAH.. semoga Engkau tidak mencabut kenikmatan yang
telah Engkau beri padaku.
Ya Rahman Ya Rahiim... Berilah kelapangan dan kesabaran
pada saudara-saudaraku yang telah Engkau tetapkan ujian ini pada mereka.
Kesembuhan dan kesembuhan... jikalau tidak didapatkan kesembuhan di dunia ini,
semoga kelak Engkau berikan kelapangan di akheratya atas ke-tawakalan mereka.
Siang itu
ketika saya sedang mengikuti ta’lim, tiba-tiba HP berbunyi, ternyata pesan
singkat dari ibu.
“Alhamdulillah ibu udah kirim uang de’. Semoga berkah.” (
my Mom)
“Jazakillah khair bu... semoga harta kita menjadi berkah”
“Allohumma amiin... juga bapak ibu dikarunia anak-anak
yang sholeh dan sholehah , agar terhindar dari api neraka dan siksa kubur.” (
my Mom)
“Aamiin ya Rabb...”
Itu adalah
percakapan singkat aku dengan ibuku.
Akhir bulan
atau awal bulan adalah masa2 di mana orang tua kita mengirimkan uang untuk anak
nya atau kita menunggu kiriman dari orang tua. Ada rasa
senang dan syukur ketika uang di ATM kita bertambah.
Pernahkah
ketika kita mengambil uang di Bank atau menarik uang di ATM kita berdoa dulu.
Bersyukur atas rezeki halal dan thoyib yang ALLAH berikan kepada kita melalui
kerja keras dari orang tua , dan berdoa semoga uang yang kita ambil penuh
keberkahan, tidak tersia-sia.
Mungkin
sebulan kita bisa menarik uang di ATM lebih dari 3 x, apakah kita yakin dalam
setiap penarikan uang itu ada keberkahan atasnya?
Berdoalah
dengan melembutkan dan menundukkan hati ini.
Ya Razaq
penuhilah keberkahan dalam setiap rezeki yangEngkau berikan pada kami.
Ya Aziz
berikanlah kekuatan dan kesehatan kepada kedua orang tuaku atas ikhtiar mereka,
semoga dalam setiap keringat yang mereka keluarkan penuh tasbih padaMu, dalam
setiap desah nafas mereka penuh dengan tahmid padaMu, dan setiap langkah mereka
penuh dengan takbir pada Mu
Setiap hari kita
memiliki aktivitas rutinan dan setiap hari pun kita berada dalam sebuah
perjalanan. Perjalanan yang mengantarkan kita pada suatu tempat aktivitas. Entah
itu sekolah, kampus, kantor, pasar, atau mana pun.
Pernah kah kita
mencoba untuk bisa melafazkan asma2 ALLAH? Atau mengucapkan kalimat thoyyibah,
beristigfar atau Segala sesuatu dalam
rangka mengingat pencipta kita pada setiap perjalanan yang kita lalui? Baik itu
berjalan kaki, mengendarai sepeda, motor, bus, mobil, kereta, atau apa sajalah.
Atau kah kita lebih
senang mendendangkan lagu-lagu melankolis yang tanpa sadar keluar dari bibir
kita? –astaghfirulloh-
Tidak dipungkiri
terkadang apa yang kita dengarkan tanpa sengaja, akan mudah terngiang di
telinga kita dan kita pun juga tanpa sadar mengikuti irama yang seharusnya
tidak perlu diikuti.
Maka hati-hati lah
dengan apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan. Karena semua akan mudah masuk
ke dalam diri kita tanpa kita sadari.
* * * * *
Suatu hari saya pernah
memboncengi seorang ummahat dalam sebuah perjalanan. Ketika pembicaraan kami
selesai, beliau langsung muroja’ah –mengulangi
Ahafalan- bacaan Qur’annya. Subhanalloh..
saya pun terinspirasi dari beliau. Kenapa tidak kita manfaatkan dalam setiap aktivitas
kita untuk selalu dzikrulloh? Baik itu dalam keadaan lapang atau sempit. Semisal
dalam kita berkendara.. dan sepanjang apakah dzikir kita dalam perjalanan itu?
Benarlah ucapan Sayyid Quthb, ia berkata: “Barisan yang diisi oleh orang2
yang lemah tidak akan bisa bertahan kuat, karena mereka akan mengecewakan di
saat susah.”
Semangat tinggi harus menjadi sifat mendasar dalam perilaku penganut agama
ini agar mereka lebih mampu bersikap teguh, tegar dan berdiri tegak
Sungguh berusaha di jalan2 kebaikan menuntut semangat tinggi, rajin &
teguh. Rasulullah mengungkapkan hal itu dengan sabdanya: "Dan engkau
berusaha dgn kekuatan dua betismu menuju kesedihan orang yg meminta tolong,
engkau mengangkat dengan kemampuan dua hastamu bersama orang yg lemah. Semua
itu termasuk pintu sedakah darimu untuk dirimu!!”
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas”
Ya ALLAH Engkau telah goncangkan belahan bumiMu di Jawa bagian barat sebagai pusatnya, serta Jakarta, Jateng, DIY juga merasakan goncangan itu. Bagi kami 7,3 SR adalah goncangan yang sangat besar, namun bagiMu mungkin hanya goyangan kecil dan teramat mudah untuk Engkau lakukan, atas segala kebesaranMu Ya Rabb...
Semua orang panik Semua orang berbondong-bondong menyelamatkan diri, lari pontang-panting. Semuanya mencari tempat aman, karena itulah gerak reflek seorang manusia ketika terancam bahaya.. Astaghfirullohu... Semua orang mengingat kebesaranMu., Ya Mutakabbir..
Namun... kami lalai.. Kami lalai ya ALLAH... Terkadang, bahkan sering hati kami bergoncang bahkan goncangan yang terjadi sangat besar sehingga menjauhkan hati ini dari mengingatMU. Goncangan atas nafsu duniawi, atau maksiyat yang menutupi hati ini Astaghfirulloh.. Tapi apa? Kami tidak merasa terancam sama sekali. Tidak segera menyelamatkan diri. Kemanakah hati ini? Apakah ia sudah mati? Astaghfirulloh...
YA ALLAH kami lalai... Kami sangat hina.. Kembali Engkau mengingatkan kami.. Berapa banyak nikmat yang Engkau beri kepada kami? Tapi kami lalai untuk mensyukurinya.. Astaghfirulloh.. Ampuni kami ya Rabb, Ya Ghofar,
Ya Shobur.. Berilah kesabaran kepada saudara-saudara kami yang rumah dan harta bendanya telah musnah...atau mereka yang kehilangan anggota keluarganya. semoga ada ganti yang lebih baik lagi
Ya Muhyi.. Ya Mumiit.. Engkaulah yang menghidupkan dan mematikan kami.. kami berpasrah padaMU. Ijinkanlah kami bisa khusnul khotimah ketika Engkau memanggil kami.
semoga ketika saya menuliskan
ini dan ketika teman-teman membaca tulisan ini, Malaikat di sekitar kita
mengaminkan harapan-harapan saya, dan ALLAH mengabulkannya.
Salah satu cita-cita saya kelak
adalah menjadi seorang dokter yang da’iyah. Dokter yang cerdas secara
intelektual, emosional, dan spiritual.
Menjadi dokter adalah suatu
pilihan dalam hidup saya yang bisa memberi manfaat kepada orang-orang di
sekitar saya. Namun, ketika saya menuliskan tentang seorang dokter yang da’iyah
pastinya ada suatu sisi lain yang harus saya pahami dalam konteks praktek
nanti.
Saya ingin mengobati pasien
tidak secara fisik saja yang meliputi patofisiologi suatu penyakitnya tapi juga
dari sisi ruhiyah dari pasien. Ketika saya berbicara masalah ruhiyah
(spiritual) , maka itu adalah suatu hubungan yang harus dibangun antara saya
dan pasien secara vertikal kepada sang Pencipta.
Saya sangat meyakini, bahwasanya
apa pun itu baik penyakit dan kesehatan semuanya berasal dari ALLAH, maka tidak
lepas pengobatan dari kesembuhan pasien saya nanti atas seijin ALLAH.
Apakah selama ini sudah banyak
dokter-dokter muslim/ah yang mempraktekkannya?
Alhamdulillah.. sudah beberapa
dokter yag saya temui, beliau juga mengajak kepada pasiennya untuk mendekatkan
diri kepada ALLAH.
Sesungguhnya seorang pasien,
juga memerlukan suatu charge ruhiyah yang kuat ketika mereka sedang sakit dan
sebagai dokter juga harus bisa memberi motivasi.
Suatu hal kecil yang bisa
dilakukan oleh seorang dokter dari spiritual healing ini adalah mengajak
bersama2 pasien untuk berdoa di tempat, mengingatkan pasien untuk sholat tepat
waktu, mengingatkan untuk selalu dzikrullohu, mengingatkan tentang bacaan
AL-Qur’annya, mengingatkan untuk selalu ikhtiar maksimal serta tawakkal dan
mengingatkan untuk mengerjakan sholat-sholat sunnah (duha, tahajud, dll)
Cita-cita saya nantinya adalah
memiliki sebuah klinik, di mana klinik nanti tidak seperti klinik pengobatan
suasananya.... tapi saya akan mengubah klinik saya menjadi klinik yang
menyenangkan.... klinik yang tidak membuat pasien-pasien bosan untuk
berkunjung, dan nuansa yang didapati adalah nuansa islami.
Ingin rasanya nanti di ruang
praktek saya dilengkapi sebuah laptop lengkap dengan in-focus-nya agar saya pun
bisa menerangkan kepada pasien secara detil tentang penyakitnya. Ruangan yang
indah dengan nuansa alam di sekitarnya... dan dilantunkan instrumen musik yang
lembut dalam ruangan. Dan di ruang tunggunya pun saya akan membuat pasien tidak
jenuh ketika menunggu, maka saya sediakan tayangan motivasi atau film
dokumenter tentang alam-alam yang indah hasil penciptaan sang Maha Kuasa dan
juga akan saya sediakan buku-buku yang menggugah semangat pasien serta
AL-Qur’an yang bisa dibaca siapa saja dan kapan saja.. dan semua tenaga medis
yang nantinya akan bekerjasama dengan saya di klinik saya mereka juga harus
bisa memberikan keramahan yang tulus pada pasien-pasien yang datang. Cukup
simple, berikan senyuman, ucapkan salam, dan sapalah pasien dengan nada
bersahabat.
Satu lagi cita-cita besar saya
adalah.. setiap hari jum’at saya akan menggratiskan semua biaya periksa
pasien-pasien saya. Semoga dari sanalah suatu butir-butir amal sholeh bisa saya
kumpulkan. Aamiin.. allohumma amiin..
Ya Muhaimin, ijinkan hamba untuk
bisa menjaga hamba-hambaMu dari suatu penyakit yang Engkau berikan, semoga
ikhtiar hamba yang lemah ini Egkau mudahkan, dan ijinkanlah ini menjadi suatu
penghambaan haba padaMU yang MAHA MENJAGA
Ya Rahiim.. ini adalah salah
satu niat hamba yang dhaif. Menjadi seorang dokter bukanlah suatu kepastian
buat hamba nanti, tapi kematian lah yang akan pasti. Bisa jadi Engkau memiliki
kehendak lain sebelum hamba menyelesaikan semua study hamba hingga hamba
menjadi seorang dokter. Hamba pun berserah diri padaMU
Semoga apa yang saya tuliskan
ini, bisa meginspirasi semua rekan-rekan sejawat sebagai tenaga medis yang
sejatinya kita adalah yang diamanhi oleh ALLAH untuk menjaga dan merawat
hamba-hamba ALLAH yang sedang sakit, maka berikanlahpelayanan yang terbaik buat mereka.
Dan juga kepada teman-teman apa
pun profesinya... lakukanlah yang terbaik apa yang bisa kita lakukan untuk
meng-Agug-kan asma ALLAH.
Sesungguhnya kita adalah makhluk
yang sangat kecil dan teramat kecil bagaikan debu di atas debu maka.. tidak ada
yang perlu kita sombongkan dari diri ini, apa pun gelar yang kita sandang.
Ramadhan sudah
berjalan 5 hari.. Apakah ia
berjalan hanya lewat saja? Bagaimana posisi
targetan-targetan kita di bulan ramadhan hingga saat ini? Masihkan ia
berjalan di atas relnya? Atau ia sudah
berjalan agak menyimpang dari relnya?
Jika ia masih
berjalan di atas relnya, maka bertahanlah dan perkuat ia agar tetap pada relnya
hingga garis finish, sehingga akan membuat hasil yang indah untuk kita berjalan
sebelas bulan ke depan. Jika ia sudah
agak menyimpang, segeralah benahi posisinya.. sebelum ia berjalan cukup jauh...
Teringat
perbincangan dengan seorang teman yang sedang menjalankan koass di suatu pulau
di luar jawa, dia berkirim pesan padaku dan bercerita tentang kondisi
ramadhannya... sedih, mengetahui beritanya... ia mengatakan targetan ramadhan
kali ini sudah agak menyimpang dari jalurnya, karena beberapa kondisi yang
berada di luar dugaannya..
Beruntunglah kita
jika kita masih diberi kesempatan hingga hari ini untuk bisa menikmati
Ramadhan. Waktu yang ada
sangatlah indah untuk kita rangkai menjadi amalan-amalan cantik di hadapan
ALLAH. Semoga kita tidak
merugi dengan waktu luang di bulan Ramadhan ini.